Dompu_NTB, tamborapress.com — Proyek rehabilitasi Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Nanga Tumpu, Kecamatan Manggelewa, yang dibiayai APBD Kabupaten Dompu Tahun Anggaran 2025 senilai Rp100 juta, kini tengah menjadi sorotan warga setempat.
Di atas kertas, proyek tersebut tampak ideal, yakni tertib dokumen, jelas tujuan, dan menyasar peningkatan layanan kesehatan bagi masyarakat pelosok. Namun di lapangan, hasil yang ditemukan justru sangat berbanding terbalik dengan dokumen yang menyebutkan komitmen peningkatan mutu pelayanan kesehatan itu.
Berdasarkan dokumen resmi Rencana Umum Pengadaan (RUP) dan uraian pekerjaan, rehabilitasi Pustu Nanga Tumpu memiliki tujuan mulia, yaitu meningkatkan kualitas layanan masyarakat, memberikan kenyamanan bagi pasien dan tenaga kesehatan, serta memperkuat fungsi Pustu sebagai fasilitas pelayanan permanen yang mendukung upaya kesehatan preventif, promotif, kuratif, hingga rehabilitatif.
Dokumen tersebut juga menegaskan bahwa bangunan yang sudah termakan usia membutuhkan perbaikan signifikan agar layak digunakan sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah ujung Kabupaten Dompu.
Namun, hasil investigasi tamborapress.com, justru menunjukkan fakta yang jauh berbeda. Saat pengecekan langsung dilakukan pada, Jumat (13/11/2025), bangunan yang dinyatakan “selesai direhabilitasi” itu terlihat masih dalam kondisi memprihatinkan. Plafon bangunan tampak rusak parah dan beberapa bagian tampaknya tidak tersentuh perbaikan sama sekali. Sementara itu, satu-satunya perubahan mencolok hanyalah cat tembok bagian depan dan beberapa pintu baru, yang bagi warga dinilai tidak sebanding dengan nilai fantastis proyek sebesar Rp100 juta tersebut.
” Kami menduga Ini dikerjakan asal-asalan. Masa anggaran Rp100 juta, tapi yang berubah cuma cat dan pintu saja? “, Tegas Andi, warga sekitar yang merasa kecewa dengan hasil pekerjaan.
Kekecewaan warga semakin dalam mengingat posisi Desa Nanga Tumpu yang berada jauh di pelosok kabupaten, sehingga keberadaan fasilitas kesehatan yang layak seharusnya menjadi prioritas. Warga menilai bahwa proyek ini justru memupus harapan mereka, karena hasil pengerjaan tidak mendukung kebutuhan layanan kesehatan sebagaimana yang dijanjikan dalam dokumen perencanaan.
Kontras antara dokumen pengadaan dan fakta lapangan menimbulkan pertanyaan serius, apakah spesifikasi teknis tidak dilaksanakan? Apakah pengawasan dari dinas terkait minim? Dan apakah dana sebesar ini benar-benar digunakan sesuai peruntukan?
Dikkutip dari LPSE Kabupaten Dompu, menunjukkan bahwa proyek tersebut dikerjakan oleh CV. Warra Manggini melalui metode penunjukan langsung, dengan nilai HPS sebesar Rp99.411.898. Meski secara administrasi proyek ini tercatat lengkap, namun temuan di lapangan menyiratkan adanya dugaan ketidaksesuaian yang signifikan antara rencana dan hasil.
Sejumlah warga pun menuntut evaluasi penggunaan anggaran terhadap pelaksanaan proyek tersebut, karena bagi mereka, rehabilitasi Pustu bukan sekadar cat baru, tetapi kebutuhan kesehatan dasar.
Sementara itu, hingga berita ini dirilis, tamborapress.com masih berupaya menghubungi Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu selaku penanggung jawab proyek, serta CV. Warra Manggini sebagai pihak rekanan, guna meminta klarifikasi resmi terkait dugaan ketidaksesuaian pekerjaan.(IB).
Proyek Pustu Nanga Tumpu di Manggelewa Diduga Bermasalah

















Leave a Reply