Advertisement

Refleksi Satu Abad Nahdlatul Ulama: Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Mulia


Oleh: Hj. Mahdalena, S.S., M.M.
Kapoksi Komisi VIII DPR RI – Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa


Bismillahirrahmanirrahim.

Peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama merupakan momentum historis sekaligus reflektif bagi seluruh elemen bangsa. Satu abad perjalanan NU bukan hanya catatan usia organisasi keagamaan, tetapi rekam jejak pengabdian panjang dalam menjaga iman, persatuan, dan keutuhan Indonesia.

Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama telah menegaskan posisi sebagai penjaga nilai keislaman yang moderat, ramah, dan berakar kuat pada budaya bangsa. NU hadir mengajarkan bahwa keberagamaan harus sejalan dengan kecintaan kepada tanah air, sebagaimana prinsip hubbul wathan minal iman yang terus relevan hingga hari ini.

Dalam konteks kebangsaan, NU berperan strategis dalam mengawal kemerdekaan Indonesia agar tidak sekadar bermakna politis, tetapi juga bermakna sosial dan kemanusiaan. Merdeka berarti hadirnya keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.

Sebagai bagian dari Partai Kebangkitan Bangsa, partai politik yang lahir dari nilai, tradisi, dan semangat Nahdlatul Ulama, kami meyakini bahwa politik harus dijalankan dengan akhlak, etika, dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat. Politik bukan tujuan akhir, melainkan instrumen perjuangan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Di Komisi VIII DPR RI, kami berkomitmen memperjuangkan kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan umat dan masyarakat luas, khususnya dalam bidang keagamaan, sosial, pendidikan pesantren, pengelolaan zakat dan wakaf, serta pelayanan haji dan umrah. Komitmen ini merupakan wujud tanggung jawab moral dan konstitusional dalam memastikan negara hadir secara adil dan bermartabat.

Nilai-nilai yang diajarkan Nahdlatul Ulama yakni: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil)—menjadi fondasi penting dalam menjawab tantangan zaman, termasuk polarisasi sosial dan politik yang berpotensi merusak persatuan bangsa. Indonesia membutuhkan keteladanan, bukan kegaduhan; membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar retorika.

Satu abad Nahdlatul Ulama adalah pengingat bahwa membangun peradaban tidak dapat dilakukan dengan sikap ekstrem dan saling menegasikan. Peradaban mulia hanya dapat tumbuh dari sikap saling menghormati, gotong royong, serta keberanian untuk berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Pada momentum bersejarah ini, mari kita jadikan Harlah ke-100 NU sebagai titik penguatan komitmen bersama untuk terus menjaga Indonesia sebagai rumah besar yang aman, damai, dan bermartabat. NU akan terus menjadi jangkar moral bangsa, dan PKB akan senantiasa berikhtiar menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kerja politik yang bertanggung jawab.

Selamat Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama.
Semoga NU senantiasa istiqamah dalam pengabdian, dan Indonesia melangkah mantap menuju peradaban yang adil, beradab, dan berkeadilan sosial.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *