Dompu_NTB, (tamborapress.com) – Penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rasabou I di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai memunculkan dampak sosial yang dirasakan langsung oleh sekolah dan masyarakat.
Sejumlah sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) di wilayah itu mengaku mengalami penurunan tingkat kehadiran dan partisipasi siswa sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti berjalan.
Program yang sebelumnya menjadi harapan baru bagi anak-anak di wilayah paling selatan Dompu itu kini meninggalkan kekhawatiran, terutama bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas yang selama ini sangat bergantung pada bantuan pemenuhan gizi bagi anak-anak mereka.
Kepala SMPN 2 Hu’u, Ardiansyah, S.Pd, mengatakan program MBG sempat membawa perubahan besar terhadap semangat belajar siswa di sekolahnya. Kehadiran siswa meningkat signifikan sejak program tersebut berjalan secara rutin.
“Setelah MBG berjalan, antusias siswa sangat tinggi. Bahkan banyak yang datang lebih awal ke sekolah. Tapi setelah mereka tidak lagi menerima MBG, justru mulai banyak yang jarang masuk sekolah,” ujar Ardiansyah kepada wartawan, Senin (25/5/2026).
Kata dia, program tersebut tidak hanya membantu kebutuhan gizi siswa, tetapi juga menjadi pemicu meningkatnya motivasi belajar dan kedisiplinan anak-anak untuk datang ke sekolah.
Kondisi serupa juga terjadi di SDN 1 Hu’u. Kepala sekolah setempat, Karimah, S.Ag, menyebut penurunan antusiasme siswa terlihat cukup jelas setelah distribusi MBG dihentikan.
“Sangat berpengaruh sekali. Dulu anak-anak rajin dan semangat datang sekolah. Sekarang suasananya berbeda, antusiasme mereka menurun,” katanya.
Ia berharap pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dapat mengevaluasi kebijakan suspend terhadap SPPG Rasabou I agar program MBG dapat kembali berjalan di sekolah-sekolah yang terdampak.
“Harapan kami, pemerintah segera mengaktifkan kembali MBG di sekolah ini. Kasihan siswa kami yang selama ini merasa sangat bahagia sejak program itu hadir,” tuturnya.
Tidak hanya pihak sekolah, para orang tua siswa juga merasakan dampak langsung dari penghentian program tersebut. Siti Maryam, seorang wali murid di Kecamatan Hu’u, mengaku MBG menjadi bantuan nyata bagi keluarganya yang hidup dari hasil pertanian dengan kondisi ekonomi pra-sejahtera.
Ia mengungkapkan, sejak program MBG berjalan, anaknya tidak lagi meminta uang saku setiap hari karena kebutuhan makan di sekolah sudah terpenuhi.
“Jujur saya sangat terbantu sekali. Program MBG memberi harapan bagi keluarga kurang mampu seperti kami, karena kebutuhan gizi anak-anak bisa terpenuhi dengan baik,” ujarnya lirih.
Bagi Maryam, program tersebut bukan saja soal bantuan makanan, tetapi bentuk perhatian negara terhadap anak-anak di wilayah pelosok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pemenuhan gizi yang layak.
Ia bersama sejumlah wali murid lainnya berharap pemerintah dan BGN segera membuka kembali operasional SPPG Rasabou I agar anak-anak dapat kembali menerima manfaat program tersebut.
“Kami berharap cepat dibuka kembali supaya anak-anak kami kembali semangat sekolah dan bisa mendapatkan MBG lagi seperti sebelumnya,” harapnya.
Diketahui, SPPG Rasabou I ditutup sementara oleh BGN sejak April 2026 lalu. Penutupan itu diduga berkaitan dengan persoalan administrasi.
Selama beroperasi, SPPG Rasabou I melayani sebanyak 2.896 penerima manfaat. Dari jumlah tersebut, 2.621 penerima berasal dari berbagai jenjang sekolah di Kecamatan Hu’u, sementara sisanya merupakan kelompok penerima manfaat dari posyandu.
Sejumlah sekolah yang sebelumnya dilayani SPPG Rasabou I antara lain TK Rizki, TK Al Huda, MI Miftahul Jannah, MI Darul Ulum, SD SLB, SDN 05 Hu’u, SDN 14 Hu’u, SDN 01 Hu’u, SMPN 01 Hu’u, dan SMPN 02 Hu’u.(IB).
Penutupan SPPG Rasabou I Turunkan Kehadiran Siswa, Guru dan Orang Tua Minta Pemerintah Aktifkan Kembali MBG
















Leave a Reply