Advertisement

Inovasi Ditengah Efisiensi, Program Orang Tua Asuh DPPKB Jadi Terobosan Baru Cegah Stunting di Dompu


Dompu_NTB, (tamborapress.com) — Di tengah tekanan efisiensi anggaran, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Dompu tetap berupaya menjaga keberlanjutan program pencegahan stunting. Salah satunya terobosannya dengan menginisiasi program Orang Tua Asuh sebagai solusi alternatif berbasis partisipasi masyarakat.

Kepala DPPKB Dompu, Hj. Daryati Kustilawati, SE, MSi, menjadi sosok di balik inovasi tersebut. Sebagai birokrat senior dengan segudang pengalaman di sejumlah jabatan strategis, ia justru mampu membaca situasi krisis anggaran sekaligus merumuskan pendekatan yang adaptif dan kolaboratif.

“Dalam kondisi keterbatasan anggaran, kami tidak bisa hanya menunggu. Harus ada langkah nyata agar program pencegahan stunting tetap berjalan,” ujar Daryati, yang akrab disapa Umi Yat, Selasa (21/04/2026).

Program Orang Tua Asuh sendiri dirancang dengan melibatkan individu-individu yang memiliki kepedulian serta kemampuan untuk berkontribusi, baik melalui edukasi gizi maupun bantuan nutrisi tambahan bagi anak-anak berisiko stunting. Pendekatan tersebut mengedepankan gotong royong sebagai fondasi utama.

Hingga April 2026, DPPKB Dompu mencatat sebanyak 422 orang tua asuh telah bergabung dalam program tersebut. Kontribusi yang diberikan pun beragam, mulai dari penyediaan susu hingga telur sebagai sumber protein bagi balita.

“Semua bantuan kami distribusikan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Umi Yat.

Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Dompu di bulan april ini turut dimanfaatkan untuk memperkuat gerakan ini. Dalam kegiatan tersebut, DPPKB berhasil menghimpun 211 krat telur dari 35 orang tua asuh, yang selanjutnya disalurkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak.

“Jumlahnya kami sesuaikan dengan peringatan HUT Dompu. Ini bentuk kepedulian bersama dalam upaya menekan stunting,” ujarnya.

Menurut Umi Yat, pengalaman panjang dalam birokrasi mengajarkannya bahwa inovasi tetkadang lahir dari keterbatasan. Ia menekankan pentingnya kreativitas dan keberanian mengambil inisiatif di tengah kondisi yang tidak ideal seperti saat ini.

“Kalau hanya menunggu anggaran, program tidak akan berjalan. Justru dalam situasi seperti ini, inovasi diuji,” katanya.

Selain itu, Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari sinergi lintas sektor, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, termasuk peran UPTD KB kecamatan dan Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB).

Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di Kabupaten Dompu berada pada angka 19,8 persen, masih sedikit di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 16 persen. Pada tahun 2025, jumlah balita stunting tercatat sebanyak 2.418 anak.

Kendati demikian, DPPKB Dompu tetap optimistis angka tersebut dapat ditekan secara bertahap melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif.

“Dengan semangat kebersamaan dan inovasi, kami yakin upaya pencegahan stunting di Dompu akan semakin efektif dan berkelanjutan,” pungkas Mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Dompu tersebut.(IB).

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *